Kasus pengadaan Chromebook di sejumlah daerah akhir-akhir ini menyoroti permasalahan krusial dalam transformasi digital pendidikan di Indonesia. Bukan sekadar soal teknis pengadaan perangkat keras, fenomena ini mengungkap perlunya evaluasi mendalam terhadap pendekatan kita dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar. Pengadaan teknologi pendidikan seharusnya bukan sekadar belanja besar-besaran, melainkan investasi strategis yang berdampak nyata pada peningkatan kualitas pembelajaran. Kegagalan dalam memahami hal ini berujung pada pemborosan anggaran negara dan, yang lebih parah, potensi tindakan korupsi.
Artikel ini akan mengupas tuntas permasalahan tersebut, menganalisis penyebabnya, dan menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada hasil. Fokusnya bukan hanya pada perangkat keras, tetapi juga pada ekosistem pendukung yang meliputi konten pembelajaran, infrastruktur, dan, yang terpenting, partisipasi aktif guru dan siswa sebagai pengguna akhir.
Mengapa Pengadaan Teknologi Pendidikan Seringkali Gagal?
Kegagalan pengadaan teknologi pendidikan seringkali berakar pada pendekatan yang keliru. Banyak kasus menunjukkan bahwa pengadaan dilakukan tanpa pemetaan kebutuhan yang komprehensif. Perangkat canggih dibeli dengan harga mahal, namun akhirnya tersimpan di gudang karena tidak sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sehari-hari atau kurangnya dukungan infrastruktur dan pelatihan yang memadai. Pertanyaan-pertanyaan kunci berikut seringkali terabaikan:
-
Relevansi dengan Kurikulum: Apakah perangkat dan software yang dibeli mendukung kurikulum nasional dan kebutuhan pembelajaran spesifik siswa? Pengadaan perangkat tanpa mempertimbangkan keselarasan dengan kurikulum hanya akan menghasilkan teknologi yang terisolasi dan tidak terintegrasi dalam proses belajar mengajar.
-
Ketersediaan Infrastruktur Pendukung: Apakah sekolah memiliki infrastruktur yang memadai, seperti koneksi internet yang stabil dan listrik yang handal? Tanpa infrastruktur yang memadai, perangkat teknologi akan menjadi tidak berfungsi dan investasi menjadi sia-sia. Sekolah di daerah terpencil, misalnya, menghadapi tantangan yang lebih besar dalam hal aksesibilitas internet dan listrik.
Ketersediaan Konten Pembelajaran: Apakah terdapat konten pembelajaran digital yang berkualitas dan relevan dengan perangkat yang dibeli? Perangkat keras tanpa konten pembelajaran yang memadai sama saja dengan mobil tanpa bahan bakar. Konten pembelajaran harus mudah diakses, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.
-
Pemeliharaan dan Perbaikan: Bagaimana mekanisme pemeliharaan dan perbaikan perangkat setelah pengadaan? Perangkat teknologi membutuhkan perawatan rutin untuk memastikan fungsinya tetap optimal. Tanpa rencana pemeliharaan yang jelas, perangkat dapat cepat rusak dan membutuhkan biaya perbaikan yang tinggi.
-
Partisipasi Pengguna Akhir: Seberapa besar guru dan siswa dilibatkan dalam proses pengadaan? Mereka adalah pengguna utama teknologi pendidikan, sehingga masukan mereka sangat penting dalam menentukan jenis perangkat dan software yang paling sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Tanpa melibatkan mereka, pengadaan akan cenderung menghasilkan solusi yang tidak tepat guna.
Menuju Pengadaan yang Berbasis Kebutuhan Nyata:

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di masa lalu, pengadaan teknologi pendidikan harus didasarkan pada analisis kebutuhan yang komprehensif dan partisipasi aktif dari guru dan siswa. Prosesnya harus melibatkan:
-
Pemetaan Kebutuhan: Melakukan studi kebutuhan yang mendalam untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran spesifik di setiap sekolah. Studi ini harus melibatkan guru, siswa, dan kepala sekolah untuk memastikan bahwa solusi yang dipilih benar-benar sesuai dengan konteks lokal.